MALUKU: PROVINSI SERIBU PULAU. Mutiara Terpendam di Wilayah Nusantara

Di antara hamparan laut biru yang membentang luas di timur Indonesia, terdapat sebuah provinsi yang menyimpan kekayaan alam dan budaya tiada tara. Provinsi Maluku, yang kerap dijuluki ‘Provinsi Seribu Pulau’, merupakan salah satu wilayah paling unik dan memesona di Tanah Air. Dengan lebih dari 1.000 pulau yang tersebar di perairan Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Maluku, provinsi ini adalah surga kepulauan yang menunggu untuk dijelajahi.

Sebuah Gugusan Kepulauan yang Menakjubkan

Provinsi Maluku terdiri dari 1.340 pulau yang tersebar di wilayah seluas lebih dari 712.000 km persegi, di mana sekitar 92% wilayahnya adalah lautan. Hanya sekitar 8% berupa daratan, namun kekayaan yang terkandung di dalamnya sungguh luar biasa. Pulau-pulau besar seperti:

  • Pulau Seram : 17,100 km²
  • Pulau Buru : 12,656 km²
  • Pulau Wetar : 3,940 km²
  • Pulau Tanimbar : 2,981 km²

Pulau Ambon menjadi titik-titik kehidupan yang ramai karena disitu terdapat Ibu Kota provinsi yaitu Kota Ambon, sementara ratusan pulau kecil lainnya menyimpan ekosistem yang masih perawan dan belum tersentuh tangan manusia.

Letak geografis Maluku yang berada di antara dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudra (Pasifik dan Hindia) menjadikannya kawasan yang sangat strategis sejak zaman dahulu. Posisi istimewa inilah yang membentuk identitas Maluku sebagai ‘provinsi seribu pulau’ dengan keberagaman hayati dan budaya yang luar biasa.

PETA PROVINSI MALUKU

Warisan Rempah-Rempah Dunia

Tidak berlebihan bila Maluku disebut sebagai ‘ibu’ dari perdagangan global. Ratusan tahun silam, kepulauan ini dikenal di seluruh penjuru dunia sebagai satu-satunya penghasil cengkeh dan pala—dua rempah-rempah yang nilainya setara emas pada era itu. Bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris berlomba-lomba menguasai Maluku semata-mata demi mendapatkan komoditas berharga ini.

Kepulauan Banda, yang terdiri dari 10 pulau vulkanik kecil, pernah menjadi satu-satunya tempat di bumi di mana pala tumbuh. Begitu tingginya nilai pala hingga Belanda rela menukar Pulau Manhattan (New York saat ini) dengan Pulau Run di Kepulauan Banda dalam perjanjian dengan Inggris pada tahun 1667. Fakta sejarah ini mencerminkan betapa luar biasanya kekayaan yang tersimpan di bumi Maluku.

Kekayaan Alam Bawah Laut yang Memukau

Sebagai provinsi kepulauan, Maluku memiliki kekayaan laut yang tak tertandingi. Perairan Maluku masuk dalam kawasan segitiga terumbu karang dunia (Coral Triangle), yang menjadi rumah bagi lebih dari 590 jenis terumbu karang dan ribuan spesies ikan. Laut Banda khususnya dikenal sebagai salah satu titik penyelaman terbaik di dunia, dengan kejernihan air dan keanekaragaman hayati yang memukau para penyelam dari seluruh penjuru bumi.

Selain terumbu karang, perairan Maluku kaya akan ikan pelagis seperti tuna, cakalang, dan tongkol yang menjadi tulang punggung perekonomian nelayan lokal. Tidak sedikit pula spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di perairan Maluku, menjadikannya laboratorium alam yang sangat berharga bagi para peneliti biologi kelautan.

Kebudayaan dan Masyarakat yang Beragam

Masyarakat Maluku dikenal dengan semangat persatuan yang kuat, yang tercermin dalam filosofi hidup lokal ‘Ale Rasa Beta Rasa’—artinya ‘apa yang kamu rasakan, aku pun merasakannya’. Filosofi ini mencerminkan nilai gotong royong, solidaritas, dan rasa saling memiliki yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku sejak generasi ke generasi.

Dari sisi seni dan budaya, Maluku memiliki kekayaan yang sangat beragam. Tari Cakalele, tari perang yang penuh semangat, menjadi salah satu ikon budaya yang paling dikenal. Selain itu, tradisi ‘Pela Gandong’—sebuah sistem persaudaraan adat yang mengikat komunitas Muslim dan Kristen dalam hubungan kekeluargaan—menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat Maluku menjunjung tinggi kerukunan antaragama.

Musik juga menjadi jiwa masyarakat Maluku. Orang Maluku dikenal sebagai pemusik dan penyanyi yang berbakat. Genre musik keroncong Maluku, yang dikenal dengan sebutan ‘Lagu Maluku’, telah melahirkan banyak musisi berbakat yang namanya dikenal di tingkat nasional bahkan internasional. Lagu-lagu seperti ‘Tanah Airku’, ‘Buka Pintu’, dan ‘Rasa Sayange’ telah menjadi bagian dari warisan budaya nasional Indonesia.

Potensi Wisata yang Belum Sepenuhnya Tergali

Maluku menyimpan sejuta potensi wisata yang masih menunggu untuk dikembangkan. Pantai Natsepa di Ambon dengan pasir putihnya yang lembut, Pantai Ora di Seram yang dijuluki ‘Maladewa-nya Indonesia’, Kepulauan Banda dengan perpaduan sejarah dan keindahan bawah lautnya, serta Pulau Kei Kecil dengan pantai berpasir putih paling halus di dunia—semua ini adalah permata-permata tersembunyi yang siap bersinar di panggung pariwisata global.

Wisata sejarah pun tak kalah menariknya. Benteng-benteng peninggalan kolonial seperti Benteng Victoria, Benteng Amsterdam, dan Benteng Belgica di Banda Neira menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Maluku sebagai pusat perdagangan rempah dunia. Bagi wisatawan yang ingin menyelami sejarah sambil menikmati keindahan alam tropis, Maluku adalah destinasi yang sempurna.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski kaya akan potensi, Maluku masih menghadapi berbagai tantangan dalam pembangunan. Keterbatasan infrastruktur, konektivitas antarpulau yang belum memadai, dan minimnya fasilitas pendidikan serta kesehatan di pulau-pulau terpencil masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Namun pemerintah provinsi bersama pemerintah pusat terus berupaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat Maluku melalui berbagai program pembangunan.

Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah—mulai dari hasil laut, rempah-rempah, potensi pariwisata, hingga cadangan mineral—Maluku sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi salah satu provinsi paling sejahtera di Indonesia. Diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan investor untuk mewujudkan potensi tersebut secara optimal dan berkelanjutan.

Penutup

Maluku bukan sekadar kumpulan pulau-pulau yang tersebar di lautan. Ia adalah sebuah peradaban yang hidup, sebuah tapestri kebudayaan yang kaya, dan sebuah ekosistem alam yang tak ternilai. ‘Provinsi Seribu Pulau’ bukan hanya julukan geografis—ia adalah simbol dari keberagaman yang bersatu, kekayaan yang menanti untuk dinikmati, dan warisan leluhur yang harus dijaga.

Di setiap pulau yang tersebar di antara gelombang Laut Banda hingga Laut Seram, mengalir darah perjuangan, jiwa seni, dan semangat kehidupan masyarakat Maluku. Seribu pulau itu memang terpisah oleh lautan, namun disatukan oleh satu jiwa: jiwa Maluku yang kokoh, hangat, dan penuh cinta terhadap tanah airnya. Inilah Maluku—provinsi seribu pulau yang sesungguhnya.

Hotel di Kota Ambon:
 

Hotel Murah di Kota Ambon

 

KERUSAKAN HUTAN INDONESIA

Irwanto, 2018.

Pengertian dari kerusakan hutan adalah berkurangnya luasan areal hutan karena kerusakan ekosistem hutan yang sering disebut degradasi hutan ditambah juga penggundulan dan alih fungsi lahan hutan atau istilahnya deforestasi. Studi CIFOR (International Forestry Research) menelaah tentang penyebab perubahan tutupan hutan yang terdiri dari perladangan berpindah, perambahan hutan, transmigrasi, pertambangan, perkebunan, hutan tanaman, pembalakan dan industri perkayuan. Selain itu kegiatan illegal logging yang dilakukan oleh kelompok profesional atau penyelundup yang didukung secara illegal oleh oknum-oknum.

Pembukaan areal hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit ditunding sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan. Hutan yang didalamnya terdapat beranekaragam jenis pohon dirubah menjadi tanaman monokultur, menyebabkan hilangnya biodiversitas dan keseimbangan ekologis di areal tersebut. Beberapa jenis satwa yang menjadikan hutan tersebut sebagai habitatnya akan berpindah mencari tempat hidup yang lebih sesuai. Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit pada areal hutan tropis merupakan salah satu pemicu terjadinya kebakaran hutan dan berdampak negatif terhadap emisi gas rumah kaca.

Penelitian terakhir dari CIFOR mengungkapkan beberapa dampak negatif dari perubahan penggunaan lahan untuk produksi bahan bakar nabati atau biofuel. Pembangunan perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut, menyebabkan emisi karbon yang dihasilkan dari konversi lahan memerlukan waktu ratusan tahun untuk proses pemulihan seperti sedia kala.

Setiap tahun, Indonesia kehilangan hutan seluas 684.000 hektar akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan dan alih fungsi hutan. Menurut data yang dirilis Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA), Indonesia menempati peringkat kedua dunia tertinggi kehilangan hutan setelah Brasil yang berada di urutan pertama. Padahal, Indonesia disebut sebagai megabiodiversity country karena memiliki hutan terluas dengan keanekaragaman hayatinya terkaya di dunia.

Tabel 1. Sepuluh Teratas Negara Hutan Terluas di Dunia Tahun 2015

No Negara Luas Hutan

(ribuan ha)

Luas area (%) Luas Hutan Global (%)
1 Russian Federation 814 .931 50 20
2 Brazil 493 .538 59 12
3 Canada 347 .069 38 9
4 United States of America 310 .095 34 8
5 China 208 .321 22 5
6 Democratic Republic of the Congo 152 .578 67 4
7 Australia 124 .751 16 3
8 Indonesia 91 .010 53 2
9 Peru 73 .973 58 2
10 India 70 .682 24 2
Total 2 .686.948 67

 

Tabel. 2. Sepuluh Teratas Negara Kehiangan Luas Hutan 2010 – 2015

No Negara Kehilangan Hutan Tahunan
Luas (ribuan ha) Nilai (%)
1 Brazil 984 0.2
2 Indonesia 684 0.7
3 Myanmar 546 1.8
4 Nigeria 410 5.0
5 United Republic of Tanzania 372 0.8
6 Paraguay 325 2.0
7 Zimbabwe 312 2.1
8 Democratic Republic of the Congo 311 0.2
9 Argentina 297 1.1
10 Bolivia (Plurinational  State of) 289 0.5

Sumber : FAO 2015

Menurut data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Indonesia, total luas hutan saat ini mencapai 124 juta hektar. Tapi sejak 2010 sampai 2015, Indonesia menempati urutan kedua tertinggi kehilangan luas hutannya yang mencapai 684.000 hektar tiap tahunnya.

Izin-izin skala raksasa yang sudah membebani dan mengubah puluhan juta hektar hutan negeri sejak lama, kini terus bertambah. Bukan hanya satwa atau keragamanan hayati kehilangan tempat berpijak, manusia juga terancam dan menderita. Kerusakan lingkungan memicu bencana terjadi di mana-mana, dari kebakaran hutan, banjir, longsor, pencemaran dan lain-lain.

Data pemerintah – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, merilis deforestasi 2016-2017 sebesar 496.370 hektar, alami penurunan dari periode tahun sebelumnya sekitar 630.000 hektar per tahun. Angka yang tidak kecil mekipun sudah ada penurunan, ini di luar penghilangan hutan dengan terencana alias karena keluar beragam izin.

Analisis Forest Watch Indonesia (FWI), deforestasi di delapan provinsi (saja) pada 2009-2016 seluas 1,78 juta hektar. Ini meliputi Aceh, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Sulawesi Tengah.

Deforestasi ini terdiri dari 1,04 juta hektar dalam konsesi izin, dan 738.816 hektar di luar konsesi (497.885 hektar dalam kawasan hutan dan 258.931 hektar pada alokasi penggunaan lain).

Pemerintah kini berkomitmen benahi tata kelola. Beragam kebijakan perlindungan hutan dibuat antara lain, berhenti memberi izin baru di hutan primer dan lahan gambut, pengetatan aturan gambut sampai perbaikan standar hijau sawit Indonesia, sampai rencana memoratorium izin sawit.

Kondisi ini tak terlepas dari kebijakan pengelolaan sumberdaya alam terutama di daerah. Booming seperti sawit juga pemanenan mineral bumi massif, berhubungan dengan perubahan lanskap kawasan hutan.  Kerusakan hutan juga berkaitan erat dengan modal politik. Kala ada suksesi kepemimpinan memerlukan “gizi berat” sebagai asupan pendanaan. Cara paling mudah mengumpulkan modal dengan mengeluarkan izin investasi sektor tambang, sawit, HPH dan lain-lain.

Beragam upaya itu merupakan langkah baik, dengan catatan, implementasi berjalan, pengawasan ketat dan penegakan hukum tegas bagi pelanggar.

Langkah pemerintah pusat yang memberikan perhatian bagi pengelolaan hutan warga melalui perhutanan sosial. Hal ini merupakan jalan baik bagi masyarakat mendapat hak mengelola dan memelihara hutan dengan memanfaatkan baik kayu, hasil hutan bukan kayu sampai jasa lingkungan (Mongabay 2018).

Putaka :

FAO, 2016. Global Forest Resources Assessment 2015. How are the world’s forests changing? Second edition. Food and agriculture organization of the united nations. Rome, 2016

Mongabay, 2018. Nasib Hutan Nusantara, Akankah Terus Merana?.  https://www.mongabay.co.id/2018/03/21/nasib-hutan-nusantara-akankah-terus-merana/ Download 25 Maret 2018.

 

 

INDONESIA SANGAT KAYA DENGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI YANG TINGGI

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Terletak di antara dua benua dan dua samudra, Indonesia memiliki posisi geografis strategis yang membentuk ekosistem unik dan beragam. Negara kepulauan ini menjadi rumah bagi jutaan spesies flora dan fauna yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau.

Megabiodiversitas Indonesia

Indonesia termasuk dalam kelompok negara megabiodiversitas, yaitu negara-negara yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di planet ini. Hanya ada 17 negara yang masuk dalam kategori ini, dan Indonesia menempati posisi kedua setelah Brasil. Kekayaan hayati Indonesia mencakup sekitar 10% spesies tumbuhan berbunga dunia, 12% mamalia, 16% reptil dan amfibi, serta 17% spesies burung yang ada di bumi.

Flora Indonesia yang Menakjubkan

Hutan tropis Indonesia menyimpan kekayaan flora yang luar biasa. Tercatat lebih dari 40.000 spesies tumbuhan hidup di Indonesia, dengan ribuan di antaranya merupakan spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Rafflesia arnoldii, bunga terbesar di dunia, merupakan salah satu kebanggaan Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki berbagai jenis anggrek langka, pohon-pohon bernilai ekonomi tinggi seperti jati dan meranti, serta beragam tanaman obat tradisional yang telah digunakan turun-temurun.

Fauna yang Beragam dan Unik

Keanekaragaman fauna Indonesia tak kalah mengesankan. Negara ini menjadi habitat bagi spesies ikonik seperti orangutan, komodo, harimau sumatera, gajah sumatera, badak jawa, dan burung cenderawasih. Garis Wallace yang membelah Indonesia menciptakan perbedaan karakteristik fauna antara bagian barat yang bercorak Asia dan bagian timur yang bercorak Australia, menjadikan Indonesia laboratorium evolusi alami yang sangat berharga.

Wilayah perairan Indonesia juga tidak kalah kaya. Sebagai bagian dari Coral Triangle, perairan Indonesia memiliki lebih dari 600 spesies karang dan ribuan spesies ikan. Keanekaragaman biota laut Indonesia menjadi yang tertinggi di dunia, mendukung kehidupan jutaan masyarakat pesisir dan industri perikanan nasional.

Tantangan Konservasi

Meskipun sangat kaya, keanekaragaman hayati Indonesia menghadapi berbagai ancaman serius. Deforestasi, perubahan iklim, perburuan liar, dan alih fungsi lahan menjadi tantangan besar dalam upaya konservasi. Banyak spesies kini berada dalam status terancam punah dan memerlukan perlindungan segera.

Upaya Pelestarian

Pemerintah Indonesia telah menetapkan berbagai kawasan konservasi, termasuk taman nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa. Beberapa kawasan konservasi Indonesia bahkan telah diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia, seperti Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, dan Taman Nasional Lorentz.

Selain upaya pemerintah, partisipasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat juga sangat penting. Program-program konservasi berbasis masyarakat, ekowisata, dan pendidikan lingkungan terus dikembangkan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.

Potensi Ekonomi dan Ekologi

Keanekaragaman hayati Indonesia bukan hanya penting secara ekologi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Industri farmasi, kosmetik, pertanian, dan pariwisata sangat bergantung pada sumber daya hayati. Ekosistem yang sehat juga memberikan jasa lingkungan penting seperti penyediaan air bersih, pencegahan banjir, penyerapan karbon, dan regulasi iklim.

Kesimpulan

Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia adalah anugerah yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Diperlukan komitmen bersama dari pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan semua pihak untuk memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia tetap lestari. Dengan pengelolaan yang bijaksana dan berkelanjutan, Indonesia dapat terus menjadi negara megabiodiversitas yang memberikan manfaat bagi kehidupan di bumi ini.