Category Archives: KERUSAKAN HUTAN

HANYA SEDIKIT ANAKAN MANGROVE YANG SELAMAT— Apa yang Salah?

Sebuah penelitian di Teluk Ambon mengungkap fakta di balik program rehabilitasi mangrove yang gagal, dan pelajaran penting untuk masa depan pesisir Indonesia.

Bayangkan menanam 1.260 bibit pohon dengan penuh harap — lalu setahun kemudian, hampir semuanya mati. Itulah kenyataan yang ditemukan para peneliti saat mengevaluasi program rehabilitasi mangrove di Teluk Ambon Bagian Dalam.

Mangrove bukan sekadar pohon biasa. Mereka adalah pelindung pantai yang menyerap karbon, sarang ribuan makhluk laut, dan benteng hidup yang menjaga pesisir dari abrasi dan bencana. Tapi di balik keindahan dan manfaatnya, menanam mangrove jauh lebih rumit dari yang kita kira.

Penelitian yang berlangsung dari Mei 2022 hingga April 2023 ini menjadi pengingat bahwa niat baik saja tidak cukup. Kita butuh ilmu, perencanaan, dan pemahaman mendalam tentang ekologi untuk benar-benar berhasil.

 

— Latar Belakang Mengapa Mangrove Begitu Penting?

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai lebih dari 99.000 kilometer. Di sepanjang garis pantai itu, mangrove berdiri sebagai penjaga alam yang tak tergantikan. Mereka menyerap karbon biru — karbon yang tersimpan jauh lebih efisien dibanding hutan biasa — sekaligus melindungi pemukiman dari terjangan ombak, intrusi air laut, dan angin kencang.

Namun tekanan pembangunan, reklamasi pantai, dan dampak perubahan iklim terus menggerus keberadaan mangrove. Di Teluk Ambon Bagian Dalam, luas dan kualitas hutan mangrove menurun secara signifikan. Pemerintah pun turun tangan dengan program rehabilitasi — tetapi hasilnya mengejutkan, bahkan mengkhawatirkan.

Dari 1.260 bibit yang ditanam, hanya 29 yang masih berdiri tegak setahun kemudian. Tingkat keberhasilan 2,3% ini dikategorikan sebagai pertumbuhan buruk — jauh di bawah standar minimum.

— Temuan Utama Lima Penyebab Kegagalan yang Wajib Diketahui

Para peneliti tidak hanya menghitung berapa pohon yang mati — mereka menggali mengapa hal itu terjadi. Hasilnya mengungkap lima faktor utama yang saling berkaitan:

🏖️

Substrat Berpasir yang Tidak Cocok

Substrat di lokasi terdiri dari 77% pasir, jauh terlalu berpori untuk mangrove jenis Rhizophora yang butuh lumpur dan lempung agar akarnya bisa berpegangan kuat.

🌊

Zona Intertidal yang Terlalu Sempit

Reklamasi pantai sejauh 30 meter memperpendek zona pasang-surut. Bibit setinggi 74 cm terendam di kedalaman 150 cm saat pasang — mereka tenggelam sebelum sempat tumbuh.

🌀

Gelombang dan Arus yang Kuat

Bibit muda yang belum berakar kuat tidak bisa bertahan dari hempasan gelombang. Lokasi ini bukan daerah tenang seperti yang disukai mangrove alami.

🌿

Salah Pilih Jenis Pohon

Rhizophora apiculata ditanam di zona yang sebenarnya cocok untuk Sonneratia alba. Ini seperti menanam padi di gurun — niatnya baik, tapi tempat dan jenisnya tidak sesuai.

🗑️

Sampah Plastik yang Membelit

Areal rehabilitasi kerap dipenuhi sampah plastik yang melilit batang bibit, membuat air keruh dan merusak proses fotosintesis bibit-bibit muda.

🦀

Serangan Hama

Bibit yang terendam terlalu lama menjadi lemah dan rentan diserang barnacles, cacing penggerek, kepiting, dan siput yang memakan daun dan akar muda.

💡 Fakta Menarik: Pohon yang Tepat di Tempat yang Tepat

Vegetasi alami di sekitar areal penanaman didominasi oleh Sonneratia alba — ini seharusnya menjadi sinyal kuat bahwa lokasi tersebut cocok untuk spesies Sonneratia, bukan Rhizophora. Memahami “bahasa” ekosistem setempat adalah kunci rehabilitasi yang berhasil.

— Peran Pasang Surut Ketika Bibit “Tenggelam” Sebelum Sempat Tumbuh

Salah satu temuan paling dramatis adalah soal penggenangan. Saat air pasang, seluruh bibit terendam sepenuhnya — bahkan ketika aplikasi pasang surut menunjukkan kondisi surut 0 meter, di lapangan bibit masih terendam air laut. Ini berarti hampir tidak ada waktu bagi daun untuk berfotosintesis.

Fotosintesis mangrove mencapai puncaknya antara pukul 09.00–11.00 pagi. Tapi ketika daun tidak bisa muncul ke permukaan karena terendam, pohon kehabisan energi, dan akhirnya mati. Reklamasi pantai yang memendekkan zona intertidal adalah akar masalahnya.

— Solusi Bagaimana Seharusnya Rehabilitasi Dilakukan?

Meski hasilnya mengecewakan, penelitian ini justru sangat berharga karena menawarkan solusi konkret. Inilah peta jalan menuju rehabilitasi mangrove yang lebih berhasil:

  • Perbaiki Substrat Terlebih Dahulu

Tambahkan material organik, lumpur, atau sedimen halus ke substrat berpasir sebelum menanam. Substrat yang kaya lumpur akan membantu akar mencengkeram lebih kuat dan menyerap nutrisi lebih baik.

  • Gunakan Teknik Guludan

Buat gundukan tanah setinggi 30–50 cm sebagai tempat menanam bibit. Cara ini terbukti efektif agar bibit tidak sepenuhnya terendam saat pasang, meningkatkan aerasi akar, dan mengurangi stres akibat genangan berlebih.

  • Tanam Jenis yang Sesuai Zonasi

Lakukan survei vegetasi alami sebelum menanam. Jika area didominasi Sonneratia, tanam Sonneratia. Jika berlumpur dan ada Rhizophora alami, baru tanam Rhizophora. Ikuti “petunjuk” ekosistem setempat.

  • Pasang Pemecah Gelombang

Bangun struktur pelindung dari bambu, kayu, atau ban bekas untuk mengurangi kekuatan gelombang. Di Demak, Jawa Tengah, teknik pagar bambu berlapis terbukti sangat efektif melindungi bibit mangrove muda.

  • Lindungi Bibit dengan Pelindung Individual

Gunakan pipa PVC atau jaring kecil di sekeliling tiap bibit untuk melindunginya dari arus, gelombang, dan serangan hama seperti kepiting dan siput, terutama di bulan-bulan pertama penanaman.

  • Bersihkan Sampah Secara Rutin

Pasang barikade sampah di muara sungai dan lakukan pembersihan berkala bersama masyarakat. Sampah plastik adalah ancaman nyata yang sering diabaikan dalam program rehabilitasi.

  • Libatkan Masyarakat & Edukasi

Rehabilitasi tidak akan berkelanjutan tanpa dukungan warga. Edukasi tentang peran ekologis mangrove — sebagai penahan abrasi, penyerap karbon, dan rumah biota laut — adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai.

✦ ✦ ✦

Mangrove Bukan Sekadar Ditanam — Mereka Harus Dipahami

Kegagalan ini bukan alasan untuk menyerah. Justru sebaliknya — setiap bibit yang mati mengajarkan kita cara yang lebih benar untuk hidup berdampingan dengan alam. Program rehabilitasi mangrove yang berhasil membutuhkan pendekatan berbasis ekologi, bukan sekadar angka pohon yang ditanam.

Teluk Ambon, dengan kekayaan alamnya, layak mendapatkan yang terbaik. Dan untuk itu, kita perlu belajar dari kegagalan ini dengan rendah hati — dan bangkit dengan strategi yang lebih bijak.

🌱 Mari jaga pesisir kita bersama

Artikel Penelitian : STUDI TINGKAT KEBERHASILAN MANGROVE

Sumber Penelitian: Irwanto, I., Sahupala, A., & Soselisa, F. (2024). Studi Tingkat Keberhasilan dan Solusi Rehabilitasi Mangrove pada Teluk Ambon Bagian Dalam, Provinsi Maluku. MARSEGU: Jurnal Sains dan Teknologi, Vol.1 No.9, Desember 2024, hal. 1016–1041. DOI: https://doi.org/10.69840/marsegu/1.9.2024.1016-1041

KERUSAKAN HUTAN INDONESIA

Irwanto, 2018.

Pengertian dari kerusakan hutan adalah berkurangnya luasan areal hutan karena kerusakan ekosistem hutan yang sering disebut degradasi hutan ditambah juga penggundulan dan alih fungsi lahan hutan atau istilahnya deforestasi. Studi CIFOR (International Forestry Research) menelaah tentang penyebab perubahan tutupan hutan yang terdiri dari perladangan berpindah, perambahan hutan, transmigrasi, pertambangan, perkebunan, hutan tanaman, pembalakan dan industri perkayuan. Selain itu kegiatan illegal logging yang dilakukan oleh kelompok profesional atau penyelundup yang didukung secara illegal oleh oknum-oknum.

Pembukaan areal hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit ditunding sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan. Hutan yang didalamnya terdapat beranekaragam jenis pohon dirubah menjadi tanaman monokultur, menyebabkan hilangnya biodiversitas dan keseimbangan ekologis di areal tersebut. Beberapa jenis satwa yang menjadikan hutan tersebut sebagai habitatnya akan berpindah mencari tempat hidup yang lebih sesuai. Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit pada areal hutan tropis merupakan salah satu pemicu terjadinya kebakaran hutan dan berdampak negatif terhadap emisi gas rumah kaca.

Penelitian terakhir dari CIFOR mengungkapkan beberapa dampak negatif dari perubahan penggunaan lahan untuk produksi bahan bakar nabati atau biofuel. Pembangunan perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut, menyebabkan emisi karbon yang dihasilkan dari konversi lahan memerlukan waktu ratusan tahun untuk proses pemulihan seperti sedia kala.

Setiap tahun, Indonesia kehilangan hutan seluas 684.000 hektar akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan dan alih fungsi hutan. Menurut data yang dirilis Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA), Indonesia menempati peringkat kedua dunia tertinggi kehilangan hutan setelah Brasil yang berada di urutan pertama. Padahal, Indonesia disebut sebagai megabiodiversity country karena memiliki hutan terluas dengan keanekaragaman hayatinya terkaya di dunia.

Tabel 1. Sepuluh Teratas Negara Hutan Terluas di Dunia Tahun 2015

No Negara Luas Hutan

(ribuan ha)

Luas area (%) Luas Hutan Global (%)
1 Russian Federation 814 .931 50 20
2 Brazil 493 .538 59 12
3 Canada 347 .069 38 9
4 United States of America 310 .095 34 8
5 China 208 .321 22 5
6 Democratic Republic of the Congo 152 .578 67 4
7 Australia 124 .751 16 3
8 Indonesia 91 .010 53 2
9 Peru 73 .973 58 2
10 India 70 .682 24 2
Total 2 .686.948 67

 

Tabel. 2. Sepuluh Teratas Negara Kehiangan Luas Hutan 2010 – 2015

No Negara Kehilangan Hutan Tahunan
Luas (ribuan ha) Nilai (%)
1 Brazil 984 0.2
2 Indonesia 684 0.7
3 Myanmar 546 1.8
4 Nigeria 410 5.0
5 United Republic of Tanzania 372 0.8
6 Paraguay 325 2.0
7 Zimbabwe 312 2.1
8 Democratic Republic of the Congo 311 0.2
9 Argentina 297 1.1
10 Bolivia (Plurinational  State of) 289 0.5

Sumber : FAO 2015

Menurut data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Indonesia, total luas hutan saat ini mencapai 124 juta hektar. Tapi sejak 2010 sampai 2015, Indonesia menempati urutan kedua tertinggi kehilangan luas hutannya yang mencapai 684.000 hektar tiap tahunnya.

Izin-izin skala raksasa yang sudah membebani dan mengubah puluhan juta hektar hutan negeri sejak lama, kini terus bertambah. Bukan hanya satwa atau keragamanan hayati kehilangan tempat berpijak, manusia juga terancam dan menderita. Kerusakan lingkungan memicu bencana terjadi di mana-mana, dari kebakaran hutan, banjir, longsor, pencemaran dan lain-lain.

Data pemerintah – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, merilis deforestasi 2016-2017 sebesar 496.370 hektar, alami penurunan dari periode tahun sebelumnya sekitar 630.000 hektar per tahun. Angka yang tidak kecil mekipun sudah ada penurunan, ini di luar penghilangan hutan dengan terencana alias karena keluar beragam izin.

Analisis Forest Watch Indonesia (FWI), deforestasi di delapan provinsi (saja) pada 2009-2016 seluas 1,78 juta hektar. Ini meliputi Aceh, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Sulawesi Tengah.

Deforestasi ini terdiri dari 1,04 juta hektar dalam konsesi izin, dan 738.816 hektar di luar konsesi (497.885 hektar dalam kawasan hutan dan 258.931 hektar pada alokasi penggunaan lain).

Pemerintah kini berkomitmen benahi tata kelola. Beragam kebijakan perlindungan hutan dibuat antara lain, berhenti memberi izin baru di hutan primer dan lahan gambut, pengetatan aturan gambut sampai perbaikan standar hijau sawit Indonesia, sampai rencana memoratorium izin sawit.

Kondisi ini tak terlepas dari kebijakan pengelolaan sumberdaya alam terutama di daerah. Booming seperti sawit juga pemanenan mineral bumi massif, berhubungan dengan perubahan lanskap kawasan hutan.  Kerusakan hutan juga berkaitan erat dengan modal politik. Kala ada suksesi kepemimpinan memerlukan “gizi berat” sebagai asupan pendanaan. Cara paling mudah mengumpulkan modal dengan mengeluarkan izin investasi sektor tambang, sawit, HPH dan lain-lain.

Beragam upaya itu merupakan langkah baik, dengan catatan, implementasi berjalan, pengawasan ketat dan penegakan hukum tegas bagi pelanggar.

Langkah pemerintah pusat yang memberikan perhatian bagi pengelolaan hutan warga melalui perhutanan sosial. Hal ini merupakan jalan baik bagi masyarakat mendapat hak mengelola dan memelihara hutan dengan memanfaatkan baik kayu, hasil hutan bukan kayu sampai jasa lingkungan (Mongabay 2018).

Putaka :

FAO, 2016. Global Forest Resources Assessment 2015. How are the world’s forests changing? Second edition. Food and agriculture organization of the united nations. Rome, 2016

Mongabay, 2018. Nasib Hutan Nusantara, Akankah Terus Merana?.  https://www.mongabay.co.id/2018/03/21/nasib-hutan-nusantara-akankah-terus-merana/ Download 25 Maret 2018.