Irwanto Dosen Unpatti: Menjembatani Rimba, Kampus, dan Ruang Digital
Oleh: Redaksi RHS
Di timur Indonesia, di antara gugusan pulau yang diselimuti hutan tropis dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, berdiri seorang akademisi yang mengabdikan hidupnya bagi ilmu kehutanan. Bagi Irwanto, hutan bukan sekadar objek penelitian. Ia adalah ruang belajar, sumber kehidupan, dan amanah lintas generasi.
Sebagai dosen di Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura, Irwanto telah menapaki perjalanan panjang dalam dunia akademik. Sejak masa mudanya, ketertarikan pada ekologi dan dinamika hutan tropis telah membentuk arah hidupnya. Pilihan menekuni ilmu kehutanan bukanlah sekadar keputusan akademik, melainkan panggilan untuk memahami dan menjaga keseimbangan alam, khususnya di kawasan Maluku yang kaya namun rentan.
Mengakar pada Ekologi Hutan Tropis
Dalam berbagai penelitian dan pembimbingan akademik, Irwanto dikenal konsisten menekankan pentingnya pendekatan ilmiah berbasis data lapangan. Inventarisasi vegetasi, analisis struktur dan komposisi hutan, indeks keanekaragaman jenis, hingga pengukuran stok karbon menjadi bagian dari keseharian akademiknya.
Ia kerap mengajak mahasiswa untuk melihat hutan bukan hanya sebagai kumpulan pohon, tetapi sebagai sistem ekologis yang kompleks—tempat interaksi tanah, air, mikroorganisme, flora, fauna, dan manusia berlangsung secara dinamis. Pendekatan ini penting, terutama di wilayah kepulauan seperti Maluku, di mana tekanan terhadap sumber daya hutan semakin meningkat akibat perubahan tata guna lahan dan dinamika sosial ekonomi.
Baginya, riset kehutanan tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah. Data dan temuan lapangan harus mampu menjawab persoalan riil: bagaimana menjaga keberlanjutan hutan, bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, dan bagaimana merumuskan kebijakan berbasis sains.
Akademisi yang Mendidik dengan Integritas
Di ruang kuliah, Irwanto dikenal sebagai dosen yang mendorong mahasiswa berpikir kritis dan sistematis. Ia menekankan pentingnya metodologi yang kuat, ketelitian dalam analisis, serta kejujuran akademik. Dalam membimbing skripsi dan penelitian, ia tidak hanya memperhatikan hasil akhir, tetapi proses ilmiah yang dijalani mahasiswa.
Pendekatan tersebut mencerminkan keyakinannya bahwa kualitas lulusan kehutanan sangat menentukan masa depan pengelolaan hutan Indonesia. Seorang rimbawan, menurutnya, harus memiliki kompetensi teknis, pemahaman ekologis, serta kepekaan sosial.
Kontribusinya dalam tridarma perguruan tinggi juga meluas pada pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam konteks pengelolaan hutan berbasis masyarakat dan penguatan kapasitas lokal. Di wilayah Maluku, di mana relasi antara masyarakat adat dan hutan sangat erat, pendekatan partisipatif menjadi kunci keberhasilan program kehutanan berkelanjutan.
Dari Rimba ke Ruang Digital
Yang menarik, kiprah Irwanto tidak berhenti di kampus dan lapangan penelitian. Ia juga memanfaatkan platform digital untuk menyebarluaskan gagasan dan refleksi ilmiahnya. Melalui situs pribadi seperti irwantoshut.com dan irwanto.id, ia mendokumentasikan perjalanan akademik, publikasi, pemikiran, serta pandangan strategis tentang kehutanan dan lingkungan.
Langkah ini menunjukkan kesadarannya bahwa ilmu pengetahuan perlu hadir di ruang publik. Di era digital, akademisi tidak lagi cukup hanya menulis di jurnal ilmiah yang terbatas pembacanya. Pengetahuan harus dapat diakses lebih luas oleh mahasiswa, praktisi, pembuat kebijakan, hingga masyarakat umum.
Melalui media digital tersebut, Irwanto menjembatani dunia akademik dan masyarakat. Ia menghadirkan wacana kehutanan dalam bahasa yang lebih komunikatif, tanpa kehilangan kedalaman ilmiahnya.
Komitmen pada Keberlanjutan
Di tengah tantangan perubahan iklim global dan degradasi hutan, Irwanto memandang bahwa kehutanan Indonesia memerlukan generasi baru yang adaptif, inovatif, dan berintegritas. Ia percaya bahwa masa depan hutan tidak hanya ditentukan oleh regulasi, tetapi oleh kualitas manusia yang mengelolanya.
Sebagai akademisi di kawasan timur Indonesia, perannya menjadi strategis. Maluku dengan karakter kepulauan, keanekaragaman hayati tinggi, dan sistem sosial berbasis adat membutuhkan pendekatan pengelolaan hutan yang kontekstual dan berbasis riset.
Perjalanan Irwanto mencerminkan perpaduan antara konsistensi ilmiah dan komitmen pengabdian. Dari hutan-hutan tropis Maluku, ruang kuliah Universitas Pattimura, hingga ruang digital yang menjangkau publik lebih luas, ia terus menanamkan gagasan tentang kehutanan berkelanjutan.
Seperti pohon yang tumbuh perlahan namun kokoh, kiprahnya mengajarkan bahwa ilmu memerlukan akar yang kuat dan dedikasi yang panjang.
Hotel Murah di Kota Ambon


