Pulau Marsegu di Seram Bagian Barat, Maluku, mungkin tidak banyak dikenal. Pulau kecil ini sunyi, dikelilingi laut biru, dengan daratan berbatu hasil proses geologi ribuan tahun lalu. Tidak ada sungai yang mengalir. Tapi ada dua buah sumur yang dibuat oleh masyarakat sekitar sebagai sumber air tawar jika menginap di Pulau ini.
Namun yang membuat saya selalu ingin kembali ke sana adalah satu hal: hutan mangrovenya.
Bagaimana mungkin mangrove bisa tumbuh subur di pulau kecil berbatu tanpa suplai air tawar?
Pertanyaan sederhana itulah yang membawa saya melakukan penelitian tentang struktur, zonasi, dan dinamika pertumbuhan mangrove di Pulau Marsegu.
Mangrove di Pulau Karang: Hidup di Salinitas 30‰
Saat melakukan pengukuran di lapangan, kami menemukan bahwa kadar garam air di seluruh kawasan mangrove mencapai 30‰ (permil) — setara dengan air laut.
Biasanya mangrove tumbuh di muara sungai, tempat air tawar bercampur dengan air laut. Namun di Marsegu, tidak ada sungai sama sekali.
Artinya, mangrove di sini hidup dalam kondisi asin penuh sepanjang waktu.
Ini menjadi pelajaran pertama yang sangat penting:
Alam selalu menemukan cara untuk beradaptasi, bahkan dalam kondisi ekstrem.
Zonasi Mangrove Pulau Marsegu: Tiga Bagian, Tiga Karakter
Hutan mangrove Marsegu secara alami terbagi menjadi tiga zona utama. Setiap zona memiliki struktur dan cerita ekologis yang berbeda.
🌊 1. Zona Proksimal (Dekat Laut)
Di bagian terdepan yang berhadapan langsung dengan laut, jenis Rhizophora stylosa dan Rhizophora mucronata mendominasi.
Akar tunjangnya rapat dan kuat, membentuk benteng alami penahan gelombang. Namun kerapatan akar yang tinggi membuat bibit baru sulit tumbuh.
Di sini kita melihat bagaimana perlindungan alami pantai bekerja, tetapi regenerasi berlangsung lebih lambat.
🌿 2. Zona Tengah: Regenerasi yang Melimpah
Zona ini paling dinamis.
Beberapa pohon di bagian tengah pernah ditebang masyarakat untuk bahan bangunan. Sekilas terlihat sebagai gangguan. Namun bukaan tajuk tersebut justru memungkinkan sinar matahari masuk ke lantai hutan.
Hasilnya?
Kami menemukan hingga 11.000 anakan mangrove per hektar di zona ini.
Celah kanopi membuka peluang bagi kehidupan baru.
Namun tentu saja, jika aktivitas penebangan dilakukan terus-menerus tanpa pengelolaan, keseimbangan ekosistem bisa terganggu.
🌳 3. Zona Distal (Bagian Terdalam): Hutan yang Dewasa
Di zona terdalam, pohon-pohon mangrove telah mencapai fase matang. Diameter batangnya besar, beberapa bahkan mendekati 100 cm.
Kerapatan pohon mencapai 300 pohon per hektar.
Kanopi yang rapat membuat sedikit cahaya mencapai lantai hutan, sehingga regenerasi alami relatif rendah. Banyak pohon tua mati secara alami, kemudian terurai menjadi serasah dan humus.
Inilah siklus kehidupan hutan yang berjalan perlahan dan stabil.
Pulau Kelelawar: Rumah bagi Pteropus ocularis
Nama “Marsegu” dalam bahasa lokal berarti kelelawar.
Saat senja tiba, ribuan kelelawar Seram (Pteropus ocularis) terbang dari tajuk mangrove menuju Pulau Seram untuk mencari makan. Siang hari mereka bergelantungan di pohon-pohon mangrove.
Spesies ini bahkan telah dikategorikan Vulnerable (rentan) secara global.
Artinya, keberadaan mangrove Marsegu bukan hanya penting untuk pohon dan pesisir, tetapi juga bagi kelangsungan satwa liar endemik.
Tantangan Konservasi Mangrove di Pulau Kecil
Sebagian kecil area mangrove telah dimanfaatkan untuk kebun kelapa. Penebangan Bruguiera gymnorhiza juga masih terjadi untuk kebutuhan kayu.
Pulau Marsegu sendiri telah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung sejak 2002.
Pertanyaannya bukan sekadar boleh atau tidak boleh.
Pertanyaannya adalah:
Bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan fungsi ekologis mangrove?
Mangrove bukan hanya untuk kayu kabar. Namun manfaat mangrove sangat penting:
- Pelindung alami dari abrasi dan gelombang
- Penyimpan karbon dalam jumlah besar
- Habitat ikan, kepiting, dan satwa liar
- Penyangga ekosistem pesisir
Di pulau kecil seperti Marsegu, kerusakan kecil saja bisa berdampak besar.
Pelajaran dari Hutan Mangrove Pulau Marsegu
Dari penelitian ini, saya belajar beberapa hal penting:
- Ekosistem kecil bisa memiliki kompleksitas luar biasa.
- Mangrove mampu beradaptasi dalam kondisi tanpa air tawar.
- Intervensi manusia bisa memicu regenerasi — tetapi juga bisa merusak jika tidak dikendalikan.
- Konservasi di pulau kecil memerlukan pendekatan berbasis data dan pemahaman ekologi.
Bagi saya pribadi, penelitian ini bukan hanya tentang publikasi ilmiah. Ini tentang memahami bagaimana alam bekerja, lalu menggunakan pengetahuan itu untuk menjaga keberlanjutan.
Pulau Marsegu mungkin kecil di peta.
Tetapi ia menyimpan pelajaran besar tentang ketahanan, adaptasi, dan pentingnya menjaga mangrove di Maluku.
Dan setiap kali saya berdiri di antara akar-akar mangrove itu, saya selalu merasa diingatkan:
Alam tidak pernah berhenti mengajarkan kita, asal kita mau belajar.




